Siapa Wali Songo


KITA selalu dengar mengenai Wali Songo, siapakah Wali Songo sebenarnya. Disebabkan rasa ingin tahu siapa Wali Songo ni maka saya membuat sedikit pencarian di internet. Terkejut juga bila baca mengenainya, rupa-rupanya sebelum munculnya Walisongo ni, majoriti penduduk Jawa ketika itu adalah beragama hindu dan mengamalkan kebudayaan hindu. Hinggalah munculnya wali-wali ini menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa yang menganuti agama Budha masa tu sehinggalah membawa kepada kejayaan Islam ketika itu. Jom baca sedikit kajian yang saya buat mengenai Wali Songo ni, kalu nak diikutkan panjang nak cerita tentang sejarah Wali Songo, jadi saya sedikit ringkasan tentang mereka.

''TENTANG WALI SONGO''

Walisongo atau Walisanga dikenali sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, iaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat."Walisongo" bererti sembilan orang wali.

Era Walisongo mengakhiri penguasaan kebudayaan Hindu-Buddha dalam budaya Nusantara dan digantikan dengan kebudayaan Islam. Walisongo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Peranan mereka sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat Walisongo ini lebih banyak disebut berbanding dengan ulama yang lain.

SUNAN GRESIK
Sunan Gresik, nama asli Maulana Malik Ibrahim, atau dikenal pula sebagai Syekh Maghribi adalah salah satu anggota Walisongo. Walaupun beliau bukan asli orang Jawa, namun beliau berjasa kepada masyarakat. Kerana beliaulah yang mula pertama menyebarkan Islam di tanah Jawa. Sehingga berkat usaha dan jasanya, penduduk pulau Jawa yang kebanyakan masih beragama Hindu dan Buddha di kala itu akhirnya mulai banyak yang memeluk Islam.


SUNAN AMPEL
Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan dijangkakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja.

Pendapat lain, Rafflesmenyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari Champa dan menjadi raja di sana. Sunan Ampel datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui makciknya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang puteri Champa yang bernikah dengan raja Majapahit yang bernama Prabu Kertawijaya.

SUNAN BONANG

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putera Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.Bonang adalah sebuah kampung di kabupaten Jepara. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makamnya berada di kota Gresik. Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebatinan.

Beliau mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernafasan yang disebut dengan rahsia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Beliau mencipta Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis ertikan iaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah sehingga mencapai tingkatnya diharuskan pandai baca dan memahami isi Al-Qur'an. 

Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Solat dan Zikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih diamalkan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.

SUNAN DRAJAT
Sunan Drajat dianggarkan lahir pada tahun 1470. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelaran Raden Syarifudin. Dia adalah putera kepada Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang. Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal sosiawan sangat mementingkan nasib kaum fakir miskin, terlebih dahulu menentingkan kesejahteraan sosial baru memulakan pengajarannya. Motivasi lebih ditekankan pada kepimpinan kerja keras, kedermawanan untuk mengatasi kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usaha kearah itu menjadi lebih mudah kerana Sunan Drajat memperoleh kuasa untuk mengatur wilayahnya yang mempunyai autonomi.

Sebagai penghargaan diatas jasanya menyebarkan agama Islam dan usahanya membasmi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak I pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.

SUNAN KALIJAGA
Sunan Kalijaga dipercayai lahir sekitar tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia merupakan anak lelaki adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta/Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga tinggal di sana, dia sering berendam disungai (kali), atau jaga kali.

Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan berkahwin dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 anak lelaki: R. Umar Said(Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah. Maka ajaran Sunan Kalijaga dikesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai cara dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, Pentas wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid dipercayai sebagai karya Sunan Kalijaga.

SUNAN KUDUS
Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq. Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung, adalah panglima perang Kesultanan Demak, danSyarifah, adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.

Sunan Kudus pernah menjabat juga sebagai panglima perang Kesultanan Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto, dia ikut bertempur melawan Arya Penangsang. Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Kudus.

SUNAN GIRI
Muhammad Ainul Yakin atau lebih dikenali sebagai Sunan Giri (lahir AD 1442 di Blambangan (kini Banyuwangi)) dianggap salah seorang dari Walisongodari Jawa di Indonesia. Ayahnya bernama Maulana Ishak. Sunan Giri juga dikenali sebagai Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden Ainul Yaqin dan Jaka Samudra.

Dia dikatakan sebagai anak kepada Dewi Sekardadu dan Maulana Ishak dari Melaka (saudara Maulana Malik Ibrahim, tetapi kemudiannya diambil sebagai anak angkat oleh Nyai Semboja). Secara tradisi dia dikatakan sebagai anak kepada puteri Hindu, yang datang ke Balambangan sebagai pendakwah. Puteri itu terpaksa meninggalkannya ketika krisis dan menghanyutkannya dalam bot kecil, dari mana dia diselamatkan oleh pelaut (cerita menyerupai kisah nabi Musa). Ketika kecil, Sunan Giri berguru pada Sunan Ampel, dan berkenalan dengan Sunan Bonang, yang kemudian bersama-sama pergi belajar ke tanah Arab. 

Setelah kembali ke Jawa, dia mendirikan pondok pesantren di daerah perbukitan desa Sidomukti, Gresik. Nama giri berasal dari bahasa Jawa, yang berarti gunung.

SUNAN MURIA
Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Umar Syahid. Nama kecil beliau ialah Raden Prawoto. Menurut Solichin Salam di dalam buku Sekitar Wali Sanga terbitan Menara Kudus, Sunan Muria adalah putera kepada Sunan Kalijaga hasil pernikahan beliau dengan Dewi Saroh, puteri kepada Maulana Ishak. Dari itu, Sunan Muria adalah berpangkat anak saudara kepada Sunan Girikerana Maulana Ishak adalah ayahanda kepada Sunan Giri.

Setelah dewasa, Sunan Muria telah bernikah dengan Dewi Sujinah, puteri kepada Sunan Ngudung, dan telah memperolehi seorang putera yang bernama Pangeran Santri, dan yang di kemudian hari telah diberikan nama julukan Sunan Ngadilangu. Oleh itu, Sunan Muria juga memiliki pertalian keluarga dengan Sunan Kudus, kerana Sunan Kudus adalah putera kepada Sunan Ngudung (Raden Usman Haji). Di dalam usaha mengembangkan ajaran Islam kepada masyarakat umum, Sunan Muria telah turut menggunakan gamelan dan wayang kulit sebagai alat (media) untuk berdakwah. Dan telah dikatakan juga bahawa beliau adalah pencipta bagi tembang Sinom dan Kinanti.

Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah, tempat dia dimakamkan.

SUNAN GUNUNG JATI
Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husain.. 

Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Mawlana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji untuk umat Islam.

Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuawana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayat mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah Uwaknya wafat.

No comments:

Post a Comment